"Bukan berat Beban yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita memikulbeban tersebut" .- Stephen Covey
Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Coveymengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapaberat menurut anda kira segelas air ini?"
Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr. "Ini bukanlahmasalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya."kata Covey.
"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."
"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey."Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi". Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan.Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada dipundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa.Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.
Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya...!!Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.
Start the day with smile and have a good day
skip to main |
skip to sidebar
Nol Satu Dua Tiga Empat Lima Enam Tujuh Delapan Sembilan
Wednesday, November 22, 2006
Posted by
Vincentius Oki Hartanto
at
11/22/2006 02:32:00 pm
0
comments
Email This
BlogThis!
Share to X
Share to Facebook
Thursday, November 16, 2006
Foto Di Atas Meja ...
Seorang artis tengah dirundung malang. Lantaran mencandu narkoba, ia terserang penyakit maut HIV.Kini ia tergolek sekarat di rumah.
Seorang teman datang mencoba menghibur dan meneguhkan imannya. Namun dosa-dosa yang telah diperbuatmembutakan mata si artis. Ia putus asa.
"Aku berdosa," akunya memelas, "Aku telah menghancurkan hidupku dan kehidupan banyak orang disekelilingku. Kini aku akan tersiksa di neraka. Tak ada lagi yang bisa kuperbuat."
Dari sisi tempat tidurnya, sang teman melihat sebuah potret gadis kecil yang cantik terpigura diatas meja. "Ini foto siapa?" katanya.
Mendengar pertanyaan itu sang artis antusias, semangat hidupnya tergerak kembali "Oh, itu fotoputriku. Dialah mutiara hidupku, ia satu-satunya yang indah dalam hidupku."
"Apakah kamu akan menolongnya bila ia mendapat kesulitan, atau melakukan kesalahan? Maukah kamumemaafkan dia? Apakah kamu masih mencintainya? "
"Tentu saja." Jawab sang artis antusias. "Aku akan lakukan apapun demi dia. Mengapa kau lontarkanpertanyaan seperti ini?"
"Saya ingin kau tahu," jawab sang teman, "bahwa Tuhan juga memiliki foto dirimu di atas meja-Nya."
Wajah artis itu terkesiap. Sudah terlalu lama ia tidak mendengar kata Tuhan, apalagi mengucapkannya.Sastrawan Rusia, Leo Tolstoy, dalam karyanya Last Diaries pernah menulis, kamu selalu saja berpikirtentang orang lain, padahal Tuhan selalu memikirkan kamu.
Apalagi sesungguhnya, Tuhan itu sering mengunjungi kita, namun kita kerap kali tidak ada di rumah.
Seorang artis tengah dirundung malang. Lantaran mencandu narkoba, ia terserang penyakit maut HIV.Kini ia tergolek sekarat di rumah.
Seorang teman datang mencoba menghibur dan meneguhkan imannya. Namun dosa-dosa yang telah diperbuatmembutakan mata si artis. Ia putus asa.
"Aku berdosa," akunya memelas, "Aku telah menghancurkan hidupku dan kehidupan banyak orang disekelilingku. Kini aku akan tersiksa di neraka. Tak ada lagi yang bisa kuperbuat."
Dari sisi tempat tidurnya, sang teman melihat sebuah potret gadis kecil yang cantik terpigura diatas meja. "Ini foto siapa?" katanya.
Mendengar pertanyaan itu sang artis antusias, semangat hidupnya tergerak kembali "Oh, itu fotoputriku. Dialah mutiara hidupku, ia satu-satunya yang indah dalam hidupku."
"Apakah kamu akan menolongnya bila ia mendapat kesulitan, atau melakukan kesalahan? Maukah kamumemaafkan dia? Apakah kamu masih mencintainya? "
"Tentu saja." Jawab sang artis antusias. "Aku akan lakukan apapun demi dia. Mengapa kau lontarkanpertanyaan seperti ini?"
"Saya ingin kau tahu," jawab sang teman, "bahwa Tuhan juga memiliki foto dirimu di atas meja-Nya."
Wajah artis itu terkesiap. Sudah terlalu lama ia tidak mendengar kata Tuhan, apalagi mengucapkannya.Sastrawan Rusia, Leo Tolstoy, dalam karyanya Last Diaries pernah menulis, kamu selalu saja berpikirtentang orang lain, padahal Tuhan selalu memikirkan kamu.
Apalagi sesungguhnya, Tuhan itu sering mengunjungi kita, namun kita kerap kali tidak ada di rumah.
Posted by
Vincentius Oki Hartanto
at
11/16/2006 04:53:00 pm
0
comments
Email This
BlogThis!
Share to X
Share to Facebook